Pendidikan Sosiologi

Universitas Pendidikan Indonesia

Percepatan Eliminasi TBC di Indonesia sebelum Tahun 2030 Berbasis Gerakan Pemuda dan Komunitas

11-07-2024

Tuberkulosis atau TBC merupakan masalah kesehatan dunia, Indonesia dilaporkan sebagai penyumbang kasus TBC terbesar kedua di dunia setelah India. Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan manusia. Penyebaran TBC terjadi melalui udara, dimana gejala umum penderitanya seperti batuk lebih dari 2 minggu, demam lebih dari 2 minggu, berat badan turun, berkeringat di malam hari tanpa aktivitas, dan badan lesu atau tidak bergairah. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tetapi ada beberapa kategori orang yang memiliki faktor risiko tinggi diantaranya perokok, lansia, ibu hamil, balita, orang kontak serumah, dan orang dengan HIV (ODHIV).

Pengetahuan masyarakat tentang TBC masih sangat minim, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki keterbatasan informasi. Penyakit TBC tentu memberikan dampak pada kehidupan sosial masyarakat, mulai dari memunculkan stigma negatif hingga mengakibatkan individu mengalami diskriminasi dan isolasi sosial. Jika stigma negatif TBC terus dibiarkan secara liar di masyarakat, tentu akan berimbas pada proses pelacakan kasus ataupun upaya pengobatan pada penyintas TBC. Oleh karena itu, Bakrie Center Foundation bersama mahasiswa melalui MSIB Angkatan 6 menginisiasi program kolaborasi nasional yaitu Eliminasi TBC di Indonesia sebelum Tahun 2030.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak mulai dari mahasiswa, komunitas, pemerintah, ataupun masyarakat itu sendiri. Pengendalian stigma negatif terhadap penyakit TBC menjadi hal utama yang perlu dituntaskan dalam waktu dekat. Stigma negatif seringkali membuat penderita TBC merasa malu atau takut untuk mendapatkan bantuan medis, sehingga mengakibatkan banyak dari mereka tidak mematuhi jadwal pengobatan atau bahkan menghentikannya sama sekali. Hal ini sangat berbahaya karena ketidakpatuhan terhadap pengobatan tidak hanya memperpanjang penderitaan penyintas TBC tetapi juga meningkatkan risiko penularan TBC kepada orang lain.

Edukasi dan penyuluhan TBC gencar dilakukan oleh mahasiswa bersama dengan komunitas pegiat TBC. Agenda utamanya ialah untuk memberikan informasi yang tepat dan gencar untuk melacak persebaran kasus baru TBC. Masyarakat didorong untuk merekonstruksi pemahamannya dan tidak lagi menyebarkan informasi yang salah. Banyak stigma yang muncul karena kurangnya pemahaman dan informasi yang salah tentang TBC. Edukasi dan penyebaran informasi yang valid dapat membantu masyarakat memahami cara penularan dan pencegahan TBC, sehingga mereka dapat memberikan dukungan yang lebih baik kepada penyintas TBC. Langkah ini harapannya dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung, sehingga pada akhirnya akan membantu dalam eliminasi TBC secara global.​