'
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Forgot your password?

Forgot your username?

Sosiologi News
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Batik Trusmi
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Batik Trusmi
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Pondok Pesantren Benda Kerep
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Pondok Pesantren Benda Kerep
Asia Culture Market 2017
Sabtu, 03 September 2016 - 06:23:46 WIB
Kuliah Umum Semester Ganjil 2016/2017
Diposting oleh : Administrator
Kategori: AKADEMIK - Dibaca: 718 kali

Mengawali kegiatan perkuliahan Semester Ganjil 2016/2017 Program Studi Pendidikan Sosiologi FPIPS UPI menyelenggarakan kegiatan Kuliah Umum dengan narasumber Prof. Dr. Katsube Makoto dari Hiroshima University Jepang. Adapun tema yang diusung dalam kuliah umum kali ini adalah Perkembangan Masyarakat Desa di Jepang. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat/2 September 2016 di Auditorium FPIPS UPI tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FPIPS UPI Prof. Dr. Elly Malihah. 

Prof. Makoto menyampaikan kuliah umum mengenai perbandingan masyarakat desa di Jepang dan Tiongkok. Pada dasarnya masyarakat desa di kedua negara tersebut memiliki persamaan, namun terdapat perbedaan dalam bidang ekonomi. Desa di Jepang memiliki dua arti dalam bahasa penulisan kanji maupun katakana. Desa dalam tulisan kanji berarti tempat atau lokasi administratif. Sedangkan desa dalam katakana, desa mengandung arti sekelompok orang yang tinggal di daerah tertentu.

A.   Asal Mula Terbentuknya Masyarakat Desa di Jepang

Masyarakat desa di Jepang memiliki beberapa ciri khas, dapat dikatakan mereka lebih tertutup. Hingga sekarang masih ada beberapa contoh masyarakat desa yang kurang baik, dalam arti masih tradisional. Masyarakat desa di Jepang tidak memiliki privasi artinya mereka saling mengenal, satu sama lain dan mengetahui satu sama lain. Mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu, seperti misalnya saat bolos sekolah. Sulit menyembunyikan rahasia pribadi, seperti masalah keluarga sekalipun. Namun, masyarakat desa di Jepang akan saling tolong menolong terutama ketika terjadi bencana.

Masyarakat desa di Jepang mulai bermunculan pada Zaman Edo ahir abad ke 17. Masyarakat desa di Jepang muncul karena petani kecil (budak) mulai memerdekakan diri. Seperti budak dari tuan tanah merdeka, membentuk masyarakat desa. Mereka mampu mengorganisir masyarakat desanya sendiri. Petani dapat memerdekakan diri, karena muncul wilayah baru untuk bercocok tanam dan munculnya modernitas. Masyarakat desa di Jepang bermanfaat karena adanya sistem pajak desa. Satu desa mengumpulkan hasil beras yang dipanen, dan dikumpulkan setiap harinya. Jika ada kekurangan atau terdapat petani yang tidak mampu membayar pajak tersebut, akan ditanggung oleh petani yang mempu, dan selanjutnya akan bayar kembali dengan bunga.

Masyarakat desa di Jepang dapat memberdayakan diri. Seperti membuat bendungan untuk mengairi sawahnya. Rawa dan danau adalah sumber energi yang sangat penting bagi masyarakat desa. Karena tidak ada gas dan bensin, maka membakar sesuatu menjadi hal yang biasa dilakukan. Daun dari pohon menjadi pupuk yang bermanfaat. Mereka membuat jadwal untuk mengambil daun-daun yang akan digunakan sebagai pupuk. Sering terjadi masalah karena kebutuhan sumber daya energi yang tinggi tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya yang ada. Sebagai mana ketika pengairan dilakukan, seringkali terjadi perkelahian antar laki-laki penduduk desa.

Laki-laki di desa bergerak atas perintah ketuanya. Mereka akan datang dari manapun ketika diminta untuk berperang membela desanya. Tetapi akan jadi masalah ketika terjadi saling membunuh. Pelaku akan diusir keluar dari desa. Masyarakat desa di Jepang membentuk peraturan untuk mengantisipasi masalah tersebut. Peraturan dimusyawarahkan setahun sekali, berlandaskan pada kepentingan bersama. Misalnya ada satu pihak yang dirugikan, tetua akan turun tangan untuk mengatasi masalah tersebut. Cara mendamaikannya adalah membiarkan mengalah, dan di tahun depan akan diperioritaskan.

Hukuman tegas berlaku pagi pelanggar. Misalnya pengambilan air yang tidak disertai ijin, ini akan menjadi masalah bagi masyarakat. Hukumannya adalah sanksi sosial, sepeti tidak ada yang membantu saat kematian atau perayaan lainnya dan akan dikucilkan oleh masyarakat.  Pengucilan ini pada masyarakat desa Jepang adalah hal yang sangat menyedihkan. Ketika ia telah meminta maap maka mereka akan kembali rukun seperti semula. Masyarakat desa tidak memiliki hak untuk mengusir seseorang. Yang berhak adalah hanya raja. Ketika seseorang diusir oleh desa maka secara administratif akan dinyatakan sebagai seorang yang hilang bukan orang yang diusir oleh desa.

Masyarakat desa di Jepang memiliki sistem pembagian warisan yang unik. Pada awalnya warisan dibagikan secara rata.  Tetapi sebelum abad ke 17 sistem warisan hanya diberikan kepada anak laki-laki sulung. Sedangkan anak laki-laki yang tidak mendapat warisan terpaksa menjadi anak angkat dari keluarga lain, atau berkeja mencari uang keluar desa. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Tiongkok. Sejak sebelum masehi, zaman Dinasti Han. Anak laki-laki mendapat jatah warisan yang sama. Tetapi sekarang hanya satu anak yang mendapatkan warisan. Yang terjadi ketika semua anak laki-laki mendapat warisan yang sama maka harta keluarga akan tidak stabil. Pembagian warisan ini dikatakan sebagai keadilan, karena akan menjaga harta orang tua bagi generasi selanjutnya.

Karena keluarga sendiri akan menjadi luntur dan tidak tetap maka keterbukaan desa akan berpengaruh. Jika ada yang datang di Tiongkok, itu tidak menjadi masalah. Berbeda dengan yang terjadi di Jepang, hal ini akan menjadi masalah dikemudian hari. Hal ini dikarenakan, Tiongkok lebih mementingkan satuan manusia sebagai individu, dibandingkan dengan satuan masyarakat.

B.    Mengapa Masyarakat Desa di Jepang dapat Mempengaruhi Ekonomi

Pada zaman Edo abad ke 17, kapas merupakan bahan impor. Dari pertengahan hingga sekarang, kapas mudah diproduksi secara nasional dan berfungsi menjadi bahan baju tradisonal. Kimono yang dibuat dari kapas, membuat perempuan semakin cantik. Hal ini karena baju kimono yang dikenakan akan membentuk lekuk badannya. Kapas mulai diprosuksi dan diberjual belikan pada abad ke 18 dengan sistem putting out. Yaitu, bahan baku dikumpulkan ke tukang jahit. Lalu kapas dibuat sebagai kimono dan dibuat kain-kain lain. Mereka menjahit disela-sela pekerjaan rumah atau pekerjaan pertanian. Setelah selesai pemilik bahan akan mengambil baju dan membayar jasanya.

Di sisi lain, seringkali terjadi masalah akibat benang sisa dari jahitan baju. Sisa benang tersebut bisa dibuat bahan untuk baju lain, oleh sang penjahit. Ketika hal ini diketahui oleh masyarakat maka mereka menganggapnya sebagai penyelewengan. Sebagaimana yang telah disebutkan di awal bahwa bagi masyarakat desa akan sulit menyembunyikan sesuatu dari masyarakat desa lainnya. Sistem ini berlaku pula di Tiongkok. Tetapi di Tiongkok ada sistem saksi. Karena individualisame ini setiap keluarga mampu memproduksi sendiri kapas dan kain tersebut secara bebas. Bergerak secara individual karena tidak ada sistem masyarakat tidak mengawasi, karena sistem akan berjalan lancar ketika ada yang mengawasi.

Masalah bagi penjahit atau petani adalah kepercayaan masyarakat atau konsumennya. Kepercayaan ini membuat perbedaan harga dari setiap konsumen. Produksi kapas masuk hingga zaman Meiji. Industri ini lebih memimpin industrialisasi Jepang pada zaman Meiji. Kapas dan katun menciptakan kemajuan industri Jepang. Mengimpor alat berat dari inggris, merupakan kemajuan ekonomi di Jepang demi meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Atas industrialisasi inilah Jepang mampu mengekspor kapas dan kain ke Korea dan Tiongkok.

Sistem putting out yang dianut dari zaman Meiji masih banyak dianut di Jepang hingga sekarang. Tetapi  dalam produksi katun tidak ada sistem industri. Sistem ini cocok untuk keluarga kecil yang ingin mengembangkan ekonominya. Bermanfaat untuk mengisis kekosongan para petani dalam pekerjaan rumah dan pertanian. Kemajuan bidang ekonomi jepang mendukung masyarakat kecil di Jepang.

Produksi jepang yang diburu adalah bentuk integral seperti kereta atau komputer. Jepang memproduksi sesuatu sambil memperhatikan keseimbangan antar komponen sehingga menjadi bentuk yang integral. Sebagai contoh adalah dalam pembuatan mobil, bukan hanya mesin yang diperhitungkan tetapi harus berintegrasi dengan komponen lainnya. Berbeda dengan Amerika dan Tiongkok yang menggunakan sistem moderat yaitu satu barang dapat dipasangkan dengan barang lainnya yang memiliki kesamaan bentuk. Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat desa berpengaruh pada sistem produksi industri masyarakat desa tersebut, mereka akan menjadi masyarakat yang bersatu dan terorganisir.

Kebudayaan dan tradisi masyarakat desa Jepang dapat berpengaruh pada perilaku seseorang. Terdapat ungkapan bahwa “orang yang sombong akan lebih suka dipukul oleh orang lain agar tidak sombong” sebagimana paku yang harus sama dengan yang lainnya, tidak boleh saling menonjol. Peribahasa Tiongkok mengatakan bahwa, “pohon yang semakin besar akan semakin cepat tumbang.” Seperti pemerintah yang mendapat suap dari masyarakat, maka tidak butuh waktu yang lama bagi pemerintah tersebut untuk lengser dari jabatannya. Peribahasa ini ada sejak zaman ke 13 hingga sekarang.

Untuk meneruskan sebuah keluarga di Tiongkok bukan hanya sekedar meneruskan, tetapi harus ada yang sukses di keluarganya. Ketika seseorang telah maju maka, ia akan mendapat kekayaan yang besar. Bukan hanya dari satu keluarga tetapi dapat manjadi satu keturunan. Hal ini berbeda dengan Jepang yang hanya terjadi pada satu keluarga. Hubungan darah tidak terlalu penting bagi masyarakat Jepang tetapi lebih menjaga keberadaan keluarganya adalah hal yang paling penting, meskipun harus mengadospi anak laki-laki dari keluarga lain.

Masyarakat desa dapat menjadi masalah dalam bidang politik, seperti adanya perusahaan yang bangkrut. Hal itu merupakan wewenang perusahaan. Perusahaan yang menanggungi proyek akan berlomba satu sama lain dalam mempercepat produksinya. Perusahaan yang kalah dalam memenangkan proyek akan diprioritaskan untuk menang di tahun depan. Sistem ini akan meningkatkan standar kualitas produksi bagi perusahaan. Di Jepang tidak asing dengan penggabungan perusahaan, walaupun hal ini dianggap kriminal bagi Amerika. Maka sistem ekonomi masyarak desa thaun 80an mulai meluntur. Orang jepang tiak akan menyombongkan diri. Hal ini akan dinilai kurang baik masyarakt lainnya. Begitupula ketika orang jepang belajar, ini merupakan gaya masyarakat desa.

C.    Melunturnya Masyarakat Desa di Jepang

Jepang kalah dalam perang dunia ke-II. Hal ini menjadikan masyarakat desa di Jepang dipandang sebagai masalah dalam sistem feodal. Masyarakat mengalami perubahan yang signifikan. Pada tahun 1960 muncul gerakan baru yang bertujuan mengembalikan masyarakat desa. Banyaknya pemuda  yang bepergian ke kota untuk mencari kerja, sehingga berbagai tradisi atau upacara adat tidak dapat dilaksanakan karena kekurangan pemuda. Pemuda tersebut tinggal dan membentuk keluarga di kota, meninggalkan desa. Di desa hanya orang tua yang telah berusia lanjut.

Pemuda yang pergi ke kota juga telah memasuki usia lanjut sehingga rumah di desa tidak terurus dan ditinggalkan. Orang desa yang tinggal di kota seperti sudah terlanjur untuk tinggal di sana. Mereka tidak dapat kembali lagi ke desa, karena di desa sudah tidak memiliki keluarga. Ketika orang tua di desa meninggal maka setelah dikremasi, tulanggnya akan dihanyutkan ke laut, tidak dimakamkan.

Kemungkinan yang terjadi adalah hilangnya desa di Jepang pada 20 hingga 30 tahun mendatang. Perkembangan ekonomi Jepang juga akan berubah seiring dengan berjalannya globalisasi. Sejarah masyarakat desa di Jepang sudah berjalan 400 tahun namun, bukan tidak mungkin akan mengalami kelunturan. Dapat dikatakan masyarakat desa Jepang mulai hilang. Masalahnya sekarang adalah bagaimana masyarakat Jepang ke depannya? Ketika dahulu dikatakan masyarakat Jepang tidak memiliki privasi dan keterpurukan karena tidak adanya ruang untuk saling mengungkapkan pendapat, tetapi positifnya adalah mereka dapat saling tolong menolong satu sama lain. Masyarakat desa di Jepang juga memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Rumah mereka akan tetap aman walaupun ketika malam hari saat beristirahat tidak dikunci

Sangat sulit untuk menolak, setuju, atau pro kontra akan adanya masyarakat desa di Jepang. Untuk sekarang dibutuhkan kemandirian dari individu masiang-masing. Jepang sekarang membutuhkan keteguhan individu dan setiap kelompok masyarakat. Ketika masyarakat Tiongkok memiliki individualitas yang sangat tinggi, maka secara tradisional hubungan antar individu akan sangat dioptimalkan. Di Jepang perkembangan ekonomi berdasarkan kebersamaan, sedangkan di Tiongkok berdasar pada individu. Perkembangan ekonomi yang sekarang ada, berdasar pada perkembangan ekonomi masyarakat desa di Jepang sebelumnya.

Kuliah umum diakhiri dengan pemberian cinderamata oleh Dekan FPIPS, Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si., kepada Prof. Katsube Makoto. (puspita)




0 Komentar :

Komentar Dengan Facebook