'
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FPIPS UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Forgot your password?

Forgot your username?

Sosiologi News
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Batik Trusmi
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Batik Trusmi
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Pondok Pesantren Benda Kerep
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Pondok Pesantren Benda Kerep
Asia Culture Market 2017
Rabu, 24 Agustus 2016 - 13:39:31 WIB
Sosiologi Nyaba Ka Garut Kampung Dukuh (KKL Tematik)
Diposting oleh : Administrator
Kategori: AKADEMIK - Dibaca: 878 kali

Sabtu, 16 april 2016, mahasiswa pendidikan sosiologi angkatan 2013 melaksanakan Kuliah kerja lapangan (KKL) ke Kabupaten Garut Selatan. Tepatnya, kampung adat dukuh yang terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Garut, Jawa Barat. Ada yang unik dari nama kampung ini, dukuh, namun dalam arti yang sebenarnya, di kampung ini tidak ada buah dukuh sebagaimana namanya, arti dari dukuh disini adalah padukuhan dalam Bahasa Sunda sama dengan tempat tinggal, seperti halnya istilah pasepuhan dan padepokan. Sebanyak 27 peserta yang terdiri dari kelas A dan kelas B, menjalankan KKL Tematik ini dengan sukses sebagai upaya meningkatkan keterampilan mahasiswa.

Dari gerbang utama menuju kampung adat dukuh ditempuh dengan berjalan kaki sekitar setengah km dari akses jalan. Mulai terlihat suasana dan kondisi bangunan rumah yang terbuat dari bilik dan kayu, namun pada awal perjalanan kami melihat atap bangunan rumah warga sudah banyak yang menggunakan bahan genteng dan mengunakan listrik. Ternyata, wilayah itu merupakan bagian kampung adat dukuh luar yang mulai memisahkan diri dengan kampung adat dukuh dalam. Setibanya di kampung dukuh dalam, mahasiswa pendidikan sosiologi KKL Garut ini, di sambut baik oleh pupuhu (ketua adat) dan warga. Setelah di jamu, kami melakukan kegiatan ngagunem (ngobrol santai) bersama pupuhu yang biasa di sebut Mama.
 

Sejarah kampung adat dukuh ini terdiri dari 2 sumber, yaitu secara lisan dan tulisan. Sejarah secara lisan, bermula pada Syekh Abdul Jalil yang sejak kecil memiliki kelebihan telah mampu pergi ke berbagai mancanegara dan Mekah. Beliau di didik di Mekah dari kecil sampai dewasa, hingga mumpuni ilmunya, lalu beliau di beri tugas oleh gurunya agar kembali ke Jawa. Setelah itu, kisah ini menjadi tertulis saat perjalanan Syekh setibanya pulang ke Jawa. Beliau sempat ke Mataram dulu, dan ditawari sebagai ketua agama di Sumedang. Namun, Syekh mengajukan 2 syarat yaitu pemerintah dan rakyat harus bersatu serta harus menggunakan hukum syara. Namun, baru beberapa tahun beliau menjabat sebagai ketua agama, dan salah satu anggota pemerintahannya ada yang melanggar hukum syara. Akhirnya, Syekh memilih mengundurkan diri dari jabatan ketua agama. Beliau pindah ke Cikajang sekitar 3-4 tahun, lalu pindah ke Pameungpeuk, dan beliau melihat cahaya di tanah Pameungpeuk, hingga daerah ini menjadi sebuah kampung adat dukuh, tanah adat, tanah muhayat.

Warga kampung dukuh ini memeluk agama islam yang bermadzhab syafi’i, masyarakatnya terlihat sangat religius dan menjalankan syariat islam secara baik. Hal ini terlihat pada pantangan-pantangan bahwa perempuan dan laki-laki tidak boleh berdekat-dekatan harus ada hijab, serta kegiatan keagamaan pada anak-anak yang masih bersekolah rutin dilaksanakan di masjid dan madrasah, sekalipun itu hari minggu kegiatan keagamaan tetap berjalan sebagaimana hari biasa dilaksanakan, namun pada hari minggu, kegiatan keagamaan mengkaji kitab suci Al-Qur’an dilaksanakan pada pagi hari hingga pukul 07.00 WIB. Adapun bentuk bangunan rumah di Kampung Dukuh berbentuk persegi, hal ini melambangkan pada 4 madzhab yaitu, Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali, dan Imam Hanafi. Setiap tanggal 14 maulud melakukan ritual penanaman cai (penanaman air), ritual ini berfungsi untuk menjaga dan melestarikan air, karena semua manusia di bumi ini membutuhkan air. Setelah ngagunem, kami melakukan wawancara pada warga dengan cara menyebar sesuai dengan kelompoknya masing-masing. (anis najmunnisa)




0 Komentar :

Komentar Dengan Facebook