'
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FPIPS UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Forgot your password?

Forgot your username?

Sosiologi News
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Batik Trusmi
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Batik Trusmi
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Pondok Pesantren Benda Kerep
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Pondok Pesantren Benda Kerep
Asia Culture Market 2017
Senin, 10 April 2017 - 08:00:30 WIB
Inggit Garnasih: Sosok Feminis Yang Welas Asih
Diposting oleh : Administrator
Kategori: AKADEMIK - Dibaca: 149 kali

Mengulas edukasi sejarah para feminis di Indonesia menjadi sangat menarik, kita mungkin mengenal siapa itu R.A Kartini atau Dewi Sartika yang namanya sering disebutkan di antara deretan pahlawan negeri ini. Melalui edukasi sejarah, mengenalkan kita pada hebatnya peran perempuan di kala itu yang namanya masih terkenang bahkan dijadikan hari khusus stiap tahunnya. Tapi kenalkah Anda pada sosok wanita berasma Garnasih? Ya, namanya hanya muncul sekilas di beberapa buku sejarah yang menyebutkannya Inggit Garnasih, di antara para pendamping Bapa orator kita Ir. Soekarno. Selepas itu, mungkin tidak banyak orang yang benar-benar mengenal sosoknya yang pernah mendampingi perjalanan Bung Karno bahkan sebelum  ia menjadi sosok presiden kala itu. Minimnya literatur tentang sosok salah satu Ibu negara ini, memberangkatkan seorang Lely Mei untuk mendalami kehidupan wanita Sunda Inggit Garnasih yang membawa peran penting dalam kehidupan seorang Soekarno. Bersama kawan-kawan nya, Lely Mei menggali lebih dalam tentang  sosok Inggit Garnasih dan membawanya ke dalam edukasi sejarah  yang di sajikan menarik di dalam pertunjukan monolog yang ia bawakan di berbagai tempat. Pertunjukan ke 13 nya di tampilkan di dalam Kuliah Lintas Ilmu (6/4/2017) Psikologi Sosial di Auditorium FPIPS UPI. Melalui monolog ini, di gambarkan bagaimana ulasan kehidupan seorang Inggit Garnasih yang mendampingi Bung Karno lebih lama di bandingkan istrinya yang lain sebelum menjadi Presiden pertama RI. Mendampingi perjalanan Bung Karno ketika dalam masa pergerakan kemerdekaan, kisah di asingkannya Bung Karno ke Ende dan Bengkulu, bahkan ketika ia harus di penjarakan oleh penjajah,  Inggit lah sosok wanita yang dengan tegar mendampinginya dan membantu Bung Karno dalam pergerakan kala itu.

Inggit di gambarkan sebagai wanita yang tangguh dan berprinsip sekaligus lemah lembut sesuai nama yang di sematkan padanya Garnasih “segar, hegar dan penuh welas asih”. Bagaimana ia tidak pernah menyerah dengan keadaan dan selalu berusaha melakukan yang ia bisa untuk kebaikan dirinya, keluarga dan bangsa. Monolog yang di perankan Lely Mei  benar-benar membawa kita pada masa dimana sosok wanita Sunda Inggit Garnasih pernah menjadi feminis yang sesungguhnya. Wanita yang tegar, bergerak di dalam kemerdekaan sebagai seorang ibu dan pendamping yang luar biasa. Dengan prinsip sebagai seorang wanita Sunda, Inggit menjadi sosok yang patut di teladani bagaimana kesederhanaanya menjadi cerminan wanita sesungguhnya yang tetap memiliki ketegasan dan ketegaran di dalam dirinya. Tanpa titel pendidikannya yang tidak tinggi Inggit  adalah sosok bijaksana, ia tidak pintar tetapi ia wanita yang cerdas dengan prinsip-prinsip yang ia punya.

Sosok feminis yang seharusnya menjadi cerminan wanita Indonesia saat ini, bagaimana ia menjadi wanita yang penuh prinsip, pantang menyerah dan berdaya tanpa menghilangkan kodratinya sebagai sosok wanita yang mendampingi prianya, sosok ibu yang penuh dengan kasih sayang. Seorang wanita yang memiliki kekuatan yang sama besar dengan pria pada umumnya, sama cerdasnya dengan para pria dalam mengurus segala hal urusan domestik atau pun publik dengan powernya sebagai  seorang perempuan yaitu, kasih sayang. Di gambarkan ketika Bung Karno meminta izin padanya untuk menikahi wanita lain, ia dengan tegas menolak “wanita sunda cadu di candung” katanya, Inggit mengatakan bahwa karena ia mencintai sosok Bung Karno, melepaskannya adalah jalan terbaik daripada harus menerima wanita lain. Wanita yang penuh dengan prinsip dan bijakasana.

Bila kita menyaksikan kisah hidup seorang Inggit Garnasih, satu hal yang dapat disiratkan adalah apabila pria adalah tiang pemimpin maka wanita adalah atap yang menaunginya dan doa adalah pondasi terkuat yang di miliki.

Begitulah kira-kira sosok Inggit yang di gambarkan melalui monolog Lely Mei, ia ingin menyampaikan pesan bahwa sosok seperti ini lah yang seharusnya menjadi cerminan para wanita Indonesia saat ini, ia sengaja menampilkan monolog ini dari kampus ke kampus, dengan sasaran anak-anak muda yang menurutnya saat ini banyak di kapitalkan pikirannya dan di jajah secara tidak langsung. Lely Mei mengatakan bahwa, dengan memiliki pemuda-pemuda yang cerdas dan tangguh, dan mencintai bangsanya serta wanita-wanita cerdas yang berprinsip akan menjadi kekuatan bagi bangsa ini untuk lebih baik. (Arindini Kis)




0 Komentar :

Komentar Dengan Facebook