'
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FPIPS UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Forgot your password?

Forgot your username?

Sosiologi News
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Batik Trusmi
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Batik Trusmi
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Pondok Pesantren Benda Kerep
KKL Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2016 - Pondok Pesantren Benda Kerep
Asia Culture Market 2017
Jumat, 03 Maret 2017 - 14:27:18 WIB
Guest Lecture Prof. Kimura Toshiaki (Tohoku University, Jepang)
Diposting oleh : Administrator
Kategori: AKADEMIK - Dibaca: 292 kali

KEHIDUPAN BERAGAMA MASYARAKAT JEPANG

(SOSIOLOGI AGAMA)

 

Selasa, 28 Februari 2017, Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia mengadakan kegiatan Guest Lecture bersama Prof. Kimura Toshiaki dari Tohoku University, Japan. Kegiatan ini membahas tentang Studi Komparasi Kehidupan Beragama Masyarakat Jepang dan Indonesia. Berikut adalah ulasan kegiatan yang dapat kami sampaikan.

Masyarakat Jepang mayoritas beragama Shinto dan Budha, hanya 1% diantaranya yang menganut Kristen dan agama lainnya. Jika dihitung secara statistik, angka pemeluk agama di Jepang dapat mencapai dua kali lipat dari jumlah penduduknya. Hal ini dikarenakan masing-masing agama, baik Shinto maupun Budha melaporkan bahwa “seluruh” masyarakat Jepang beragama Shinto, begitu pula dengan yang dilaporkan oleh agama Budha.

Masyarakat Jepang dapat memeluk dua agama sekaligus, yaitu Shinto dan Budha. Hal ini dapat dilihat dari altar tempat peribadatan pada rumah-rumah masyarakat yang dibuat bersusun antara altar agama Shinto dan altar agama Budha. Oleh sebab itulah, Jepang dikenal dengan paham sinkretismenya yaitu perpaduan dari beberapa paham atau aliran yang berbeda sebagai upaya memperoleh keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan.

Paham sinkretisme terimplikasi dalam sendi kehidupan masyarakat Jepang. Sebagaimana agama Shinto digunakan dalam kegiatan peribadatan masyarakat sehari-hari, agama Budha pada saat upacara pemakaman, dan agama Kristen pada saat upacara pernikahan. Angka penganut agama Kristen yang hanya 1% nyatanya tidak berpengaruh pada upacara pernikahan masyarakat Jepang, yaitu 60% dilaksanakan dengan upacara agama Kristen. Justru hanya 18% yang melaksanakan upacara pernikahan berdasar pada agama Shinto, dan 1% agama Budha. Selebihnya yaitu sebanyak 21%, upacara pernikahan dilaksanakan dengan tidak berdasar pada ketiga agama tersebut.

Survey mengenai pentingnya agama dalam kehidupan dilakukan oleh World Value Survey pada tahun 2000. Hasilnya, Indonesia menduduki peringkat kedua teratas. Sedangkan bertolak belakang dengan itu, Jepang berada pada peringkat kedua terendah. Prof. Kimura menegaskan bahwa masyarakat Jepang memiliki “sensitifitas” yang tinggi terhadap agama. Jika di Indonesia agama dikenalkan dalam setiap jenjang persekolahan, hal ini tidak sama sekali dengan Jepang. Sistem persekolahan di Jepang tidak sedikitpun mengenalkan tentang agama.

Terlepas dari nilai keberagamaan masyarakat Jepang, terdapat satu budaya yang seolah menjadi “second religion” bagi mereka, yaitu budaya malu. Satu budaya yang mengakomodir seluruh sendi kehidupan masyarakat Jepang. Budaya yang “menuntun” masyarakat Jepang untuk berperilaku santun, tertib dan tepat waktu, bertanggung jawab atas status dan kedudukannya, serta pandai dalam menjaga lingkungan. Hingga terpatri dalam masyarakat Jepang untuk lebih baik mati daripada menanggung malu. (Puspita Wulandari)

 

 




0 Komentar :

Komentar Dengan Facebook